WITH JENESYS 2017
Miraikan, Utsunomiya University, Nikko Tosho-gu, Tokyo Metropolitan

Berpendidikan, Berprestasi, dan Kuasai Bahasa Internasional. Maka kamu akan mampu mengkoneksikan pengalaman dan pengetahuanmu dengan dunia.
Sodiah, S.Pd., M.Pd.I

Menjadi mahasiswa Pascasarjana UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi membuka peluang untuk mengunjungi negara Sakura melalui program Student Exchange. UIN STS Jambi adalah salah satu kampus yang mengirim perwakilan mahasiswanya untuk belajar ke Jepang. Setiap mahasiswa UIN STS Jambi memiliki kesempatan untuk belajar ke Jepang melalui program JENESYS setelah mengikuti beberapa tahap seleksi yang diadakan oleh kampus dan PPIM UIN Jakarta. Sehingga dapat dipastikan yang lulus adalah mahasiswa dengan kemampuan terpilih.
JENESYS 2017 adalah Program pertukaran pelajar dan pemuda yang diselenggarakan Kementerian Luar Negeri Jepang di kawasan Asia-Pasifik untuk peningkatan pemahaman mengenai Jepang. Melalui program ini kita tidak hanya mendapat pengetahuan mengenai kecanggihan Jepang tetapi juga mendapat sahabat Japanese, karena program ini juga bertujuan untuk membangun fondasi persahabatan dan kerjasama di masa mendatang. Jadi setelah selesai kunjungan kita tetap bisa keep in touch dengan mereka.
Program JENESYS 2017 memberikan kesempatan kepada para peserta untuk mengunjungi berbagai tempat yang futuristis dan juga konservatif, sehingga peserta bisa melihat kemajuan teknologi Jepang serta kekhasan masyarakat Jepang yang tetap mempertahankan keaslian budaya mereka.
Program ini memberikan peluang bagi para pelajar yang berprestasi untuk mengunjungi Jepang secara gratiiiiiissssss. Coba bayangkan berapa besar nominal uang yang harus dikeluarkan jika kita berangkat ke Jepang dengan uang saku sendiri???... Tentunya bagi saya sendiri akan sangat sulit. Fortunately, Jepang memiliki sebuah Yayasan yaitu Japan International Cooperation Center (JICE). JICE inilah yang mengelola kegiatan Exchange in Japanese Culture/Social pada program JENESYS 2017 yang saya ikuti.
Beberapa kegiatan yang kami ikuti selama program student exchange diantaranya:
1.     Mengikuti kuliah atau ceramah untuk menambah pengetahuan mengenai politik, sistem pemerintahan, kondisi ekonomi, dan kebijakan diplomasi Jepang bersama Mr. Sasaki dari Meiji University.
2.     Melakukan kunjungan ke museum sains dan teknologi terdepan yaitu Miraikan museum di Odaiba, Tokyo. Peserta Jenesys 2017 mendapat kesempatan untuk melihat teknologi buatan Jepang salah satunya Robot Asimo yang mampu melakukan aktivitas sebagaimana manusia dan ilmu pengetahuan mengenai manusia, bisa lihat postingan di FB ku: say sodiah.
3.     Diskusi dengan mahasiswa international class di Utsunomiya University, Tochigi. Pertama dilakukan presentasi mengenai negara masing-masing, kemudian dilanjutkan diskusi kelompok. Bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi adalah bahasa Inggris. Disini kita bisa saling tukar informasi mengenai kebudayaan dari negara masing-masing. Kami mendapat kesempatan untuk memperkenalkan masakan, tempat wisata, kekayaan alam, sistem pendidikan, dan budaya yang bermanfaat untuk mempererat kerjasama kedua negara.
4.     Kunjungan ke tempat warisan budaya, Nikko Tosho-gu shrine and temple di Tochigi Prefecture. Kuil ini sudah ada sejak zaman edo sekitar tahun 1603 dan masih dalam kondisi sangat baik saat ini. Tidak hanya itu, jalan menuju kuil dihiasi oleh sederetan pohon yang sangat indah. Suasana tenang dan damai kami rasakan saat berkeliling. Dan bahkan terasa sangat romantis saat melihat daun pepohonan berwarna kuning dan merah di musim gugur.
5.     Tinggal di rumah salah satu warga Jepang (home stay) di Nakagawamachi. Sebuah keberuntungan dimana orang tua angkat tempat kami tinggal memiliki anak kecil. Meskipun seorang petani mereka sangat mengutamakan pendidikan dan mendukung bakat racer melalui latihan rutin. Kami diajak ke festival tahunan yaitu pesta panen di sekolah. Ternyata pembentukan karakter benar-benar ditanamkan sejak dini. Anak-anak sudah terbiasa menjaga kebersihan, terlibat langsung dalam kegiatan praktek, dan sangat menghargai orang lain. Orang tua juga terlibat secara langsung dalam kegiatan festival sehingga kami bisa melihat mereka masak bersama dan kemudian makan bersama orang tua siswa di sekolah.
6.     Kunjungan kenegaraan di pemerintahan Tocighi perefecture. Kepala bidang hubungan internasional Jepang memberikan penjelasan mengenai kondisi masyarakat, ekonomi, geografis dan tempat wisata yang sangat potensial. Mereka menyambut dengan baik para warga negara asing yang berkunjung dan mereka berharap semakin banyak orang untuk menetap di Tochigi karena disana penduduknya sangat sedikit. Pemerintah juga memberikan kebebasan kepada para petani untuk menjual hasil kebunnya, sehingga para petani di Jepang hidup sejahtera seperti para pegawai.
7.     Kunjungan ke Tokyo Metropolitan Goverment Office di Shinjuku. Ini merupakan gedung tempat pertemuan pemerintah metropolitan Tokyo yang dijadikan sebagai destinasi wisata karena terdapat dua dek observasi sehingga kita bisa melihat pemandangan kota Tokyo seperti skytree, gunung fuji, menara dan infrastruktur kota tokyo. Tinggi gedung mencapai 243 meter dan gratis bagi siapa saja serta harus melawati pemeriksaan barang.
Tokyo adalah salah satu kota paling sibuk pada jam kerja. Namun di kota Tokyo tidak ada macet di jalan raya karena sebagian besar masyarakat menggunakan transportasi umum seperti kereta shinkansen dan bus, serta memilih berjalan kaki dan menggunakan sepeda. Minat masyarakat terhadap transportasi umum sangat tinggi karena didukung dengan adanya jaminan keamanan dan fasilitas yang memadai.
Kunjungan ke negara Jepang memberikan banyak pelajaran:
Pertama, menanamkan budaya disiplin. Masyarakatnya sangat menghargai waktu sehingga semua kegiatan terlaksana sesuai dengan jadwal yang ada. Tidak pernah ada keterlambatan dalam pemberangkatan dan kedatangan sehingga kegiatan terlaksana dan selesai tepat waktu. Mereka juga sangat menghargai peraturan sehingga sepanjang jalan kota Tokyo tidak ada kendaraan yang mengambil hak pejalan kaki dan mereka mengikuti setiap rambu-rambu yang ada. Disamping itu, penduduk Jepang sangat tertib dalam hal mengantri bahkan mengantri panjang untuk membeli makanan.
Kedua, menjaga kebersihan. Sebagian besar wilayah Tokyo dikelilingi oleh air dan pepohonan. Dengan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya kebersihan tidak terdapat sampah berserakan sepanjang mata memandang.
Ketiga, pendidikan karakter anak ditanamkan sejak dini. Di sekolah dan di rumah, anak-anak sudah diajarkan bersikap mandiri dan peduli lingkungan. Rasa kepedulian anak terhadap orang lain membentuk anak perhatian terhadap lingkungannya.
Keempat, pendidikan merupakan aset berharga bagi masa depan. Anak diberikan pendidikan di sekolah dan kelas kursus untuk mengembangkan bakat sejak dini.
Kelima, moral masyarakatnya sangat tinggi. Mereka memiliki kepercayaan terhadap 8 juta dewa yang mengitari kehidupan, sehingga mereka merasa selalu diawasi dan malu jika melakukan kesalahan. Mereka sangat menghargai makanan, hidup sederhana, menghormati orang lain, bersikap ramah dan sopan, dan tidak mau mengambil barang yang bukan miliknya sendiri.
Keenam, menyukai gaya hidup sehat. Sepanjang jalan di kota Tokyo disediakan pedestrian karena penduduk Jepang sangat senang berjalan kaki, dan mereka juga sering mengendarai sepeda. Mereka juga sering mengkonsumsi masakan sehat yang direbus dengan menu utama nasi putih.

Semua foto bisa dilihat di FB say sodiah


Komentar

  1. Massyaallah, indahnya jepang, selamat kepada kak sodiah yang sudah ke japan. Saya pengen ke sana juga nie, gimana caranya kak sodiah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. jadi mahasiswa UIN STS Jambi dulu ya,,, :) nanti akan ada pengumuman yang dikirim oleh PPIM UIN Jakarta untuk seleksi peserta delegasi student exchange..

      Hapus
  2. Saya sudah jadi Mahasiswa Pasca sarjana nie, angkatan 2016, nanti dikirim ke mana nie,

    BalasHapus

Posting Komentar